Rabu, 08 Mei 2013

SENJATA PEMUSNAH MASSAL

Senjata pemusnah massal (Weapons of mass destruction/WMD) adalah senjata yang dirancang untuk membunuh manusia dalam skala besar, biasanya menarget masyarakat awam dan personel militer. Beberapa tipe WMD dianggap memiliki akibat psikologis daripada kegunaan secara militer.
 
Adapun berbagai jenis senjata pemusnah massal akan kita bahas selengkap nya

  • Senjata NUKLIR

Pengeboman Nagasaki, Jepang, 1945, menjulang sampai 18 km di atas hiposentrum. Senjata nuklir adalah senjata yang mendapat tenaga dari reaksi nuklir dan mempunyai daya pemusnah yang dahsyat - sebuah bom nuklir mampu memusnahkan sebuah kota. Senjata nuklir telah digunakan hanya dua kali dalam pertempuran - semasa Perang Dunia II oleh Amerika Seikat terhadap kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Pada masa itu daya ledak bom nuklir yg dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki sebesar 20 kilo(ribuan) ton TNT. Sedangkan bom nuklir sekarang ini berdaya ledak lebih dari 70 mega(jutaan) ton TNT
Negara pemilik senjata nuklir yang dikonfirmasi adalah Amerika Serikat, Rusia, Britania Raya (Inggris), Prancis, Republik Rakyat Cina, India dan Pakistan. Selain itu, negara Israel dipercayai mempunyai senjata nuklir, walaupun tidak diuji dan Israel enggan mengkonfirmasi apakah memiliki senjata nuklir ataupun tidak.

Bentuk bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki
 

Senjata nuklir kini dapat dilancarkan melalui berbagai cara, seperti melalui pesawat pengebom, peluru kendali, peluru kendali balistik, dan peluru balistik jarak antar benua.
 
Tipe senjata nuklir

 



Senjata nuklir mempunyai dua tipe dasar. Tipe pertama menghasilkan energi ledakannya hanya dari process reaksi fisi. Senjata tipe ini secara umum dinamai bom atom (atomic bomb, A-bombs). Energinya hanya diproduksi dari inti atom.
Pada senjata tipe fisi, masa fissile material ( uranium yang diperkaya atau plutonium) dirancang mencapai supercritical mass - jumlah massa yang diperlukan untuk membentuk reaksi rantai- dengan menabrakkan sebutir bahan sub-critical terhadap butiran lainnya (the "gun" method), atau dengan memampatkan bulatan bahan sub-critical menggunakan bahan peledak kimia sehingga mencapai tingkat kepadatan beberapa kali lipat dari nilai semula. (the "implosion" method). Metoda yang kedua dianggap lebih canggih dibandingkan yang pertama. Dan juga penggunaan plutonium sebagai bahan fisil hanya bisa di metoda kedua.
Tantangan utama di semua desain senjata nuklir adalah untuk memastikan sebanyak mungkin bahan bakar fisi terkonsumsi sebelum senjata itu hancur. Jumlah energi yang dilepaskan oleh pembelahan bom dapat berkisar dari sekitar satu ton TNT ke sekitar 500.000 ton (500 kilotons) dari TNT.
Tipe kedua memproduksi sebagian besar energinya melalui reaksi fusi nuklir. Senjata jenis ini disebut senjata termonuklir atau bom hidrogen (disingkat sebagai bom-H), karena tipe ini didasari proses fusi nuklir yang menggabungkan isotop-isotop hidrogen (deuterium dan tritium). Meski, semua senjata tipe ini mendapatkan kebanyakan energinya dari proses fisi (termasuk fisi yang dihasilkan karena induksi neutron dari hasil reaksi fusi.) Tidak seperti tipe senjata fisi, senjata fusi tidak memiliki batasan besarnya energy yang dapat dihasilkan dari sebuah sejata termonuklir.

 
Dasar kerja desain Tellr-Ulam pada bomb hidrogen: sebuah bomb fisi menghasilkan radiasi yang kemudian mengkompresi dan memanasi butiran bahan fusi pada bagian lain.Senjata termonuklir bisa berfungsi dengan melalui sebuah bomb fisi yang kemudian memampatkan dan memanasi bahan fisi. Pada desain Teller-Ulam, yang mencakup semua senjata termonuklir multi megaton, metoda ini dicapai dengan meletakkan sebuah bomb fisi dan bahan bakar fusi (deuterium atau lithium deuteride) pada jarak berdekatan didalam sebuah wadah khusus yang dapat memantulkan radiasi. Setelah bomb fisi didetonasi, pancaran sinar gamma dan sinar X memampatkan bahan fusi, yang kemudian memanasinya ke ke suhu termonuklir. Reaksi fusi yang dihasilkan, selanjutnya memproduksi neutron berkecepatan tinggi yang sangat banyak, yang kemudian menimbulkan pembelahan nuklir pada bahan yang biasanya tidak rawan pembelahan, sebagai contoh depleted uranium. Setiap komponen pada design ini disebut "stage" (atau tahap). Tahap pertama pembelahan atom bom adalah primer dan fusi wadah kapsul adalah tahap sekunder. Di dalam bom-bom hidrogen besar, kira-kira separuh dari 'yield' dan sebagian besar nuklir fallout, berasal pada tahapan fisi depleted uranium. Dengan merangkai beberapa tahap-tahap yang berisi bahan bakar fusi yang lebih besar dari tahap sebelumnya, senjata termonuklir bisa mencapai "yield" tak terbatas. Senjata terbesar yang pernah diledakan (the Tsar Bomba dari USSR) merilis energi setara lebih dari 50 juta ton (50 megaton) TNT. Hampir semua senjata termonuklir adalah lebih kecil dibandingkan senjata tersebut, terutama karena kendala praktis seperti perlunya ukuran sekecil ruang dan batasan berat yang bisa di dapatkan pada ujung kepala roket dan misil.
Ada juga tipe senjata nuklir lain, sebagai contoh boosted fission weapon, yang merupakan senjata fisi yang memperbesar 'yield'-nya dengan sedikit menggunakan reasi fisi. Tetapi fisi ini bukan berasal dari bom fusi. Pada tipe 'boosted bom', neutron-neutron yand dihasilkan oleh reaksi fusi terutama berfungsi untuk meningkatkan efisiensi bomb fisi. contoh senjata didesain untuk keperluan khusus; bomb neutron adalah senjata termonuklir yang menghasilkan ledakan relatif kecil, tetapi dengan jumlah radiasi neutron yang banyak. Meledaknya senjata nuklir ini diikuti dengan pancaran radiasi neutron. Senjata jenis ini, secara teori bisa digunakan untuk membawa korban yang tinggi tanpa menghancurkan infrastruktur dan hanya membuat fallout yang kecil. Membubuhi senjata nuklir dengan bahan tertentu (sebagain contoh cobalt atau emas) menghasilkan senjata yang dinamai "salted bomb". Senjata jenis ini menghasilkan kontaminasi radioactive yang sangat tinggi. Sebagian besar variasi di disain senjata nuklir terletak pada beda "yield" untuk berbagai keperluan, dan untuk mencapai ukuran fisik yang sekecil mungkin.


 




  • PELURU KENDALI JERICHO

Peluru kendali Jericho adalah nama umum yang diberikan kepada peluru kendali balistik jarak serdahana (MRBM) Israel. Nama tersebut diambil dari kontrak pembangunan yang ditandatangani antara Israel dan Dassault pada 1963. Seperti banyak projek berkaitan dengan program senjata nuklir Israel butiran terperinci sukar didapati dalam alam umum (public domain).
Peluru kendali Jericho I pertama sekali dikenal pasti sebagai sistem beroperasi pada lewat
1971. Ia adalah 13.4 m panjang, diameter 0.8 m, seberat 6.5 ton. Ia mempunyai jarak 500 km dan Kemungkinan ralat bulatan "Circular error probable" (CEP) 1,000 [[meter|m], dan ia mampu membawa beban sekitar 400 kg. Ia diperkirakan untuk membawa kepala peledak nuklir. Pembangunan permulaan adalah bersama dengan Perancis, Dassault membekalkan berbagai sistem peluru kendali semenjak 1963 dan jenis dikelaskan MD-620 diuji pelancarannya pada 1965. Tetapi kerjasama dengan Perancis terbentur dengan embargo senjata semenjak Januari 1968. Penyelidikan diteruskan oleh IAI di kemudahan Beit Zachariah dan ongkos program tersebut meningkat hampir $1 miliar pada 1980. Walaupun menghadapi masalah sistem pensasar, dipercayai hampir 100 peluru berpandu jenis ini dihasilkan.
Sistem ini dipertingkatkan sekitar
1985, ia dikenali sebagai Jericho II, menggunakan bahan api pepejal, 13 ton, sistem dua-peringkat. Terdapat beberapa pelancaran ujian ke Laut Tengah dari 1987 sehingga 1992, paling jauh sekitar 1,300 km, kebanyakannya dari kemudahan di Palmahim, selatan Tel Aviv. Kualitas sistem ini juga tidak diketahui dengan jelas tetapi dipercayai menyamai US MGM-31 Pershing. Ini disebabkan kerajaan Amerika Serikat membekalkan bantuan teknikal yang banyak kepada Israel pada 1970s.
Dipercayai bahwa Jericho II membentuk asas kepada, 23 ton Shavit NEXT pelancar satelit tiga-peringkat (menyerupai RSA-3
Afrika Selatan), pertama sekali dilancarkan pada 1988 dari Palmachim. Berasaskan prestasi Shavit dianggarkan bahawa sebagai peluru berpandu balistik ia mempunyai jarak maksima sejauh 4,500 km dengan beban terhad 250 kg.
Dikatakan juga bahwa sistem Jericho IIb atau Jericho III telah disiapkan atau sedang dibangunkan.


  • RUDAL TAEPODONG
 
Rudal Taepodong-1 terdiri dari bagian Nodong dan Scud yang jaraknya bisa mencapai radius 2.900 km. Korea Utara kini tengah membuat ulang penerusnya yang bernama Taepodong-2 yang kehebatan ledakannya jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya karena memiliki tiga tahapan.
Sebelumnya, korea utara pernah menguji rudal Taepodong-1 di atas Jepang Utara pada Agustus 1998, dan setelah itu diuji kembali pada tahun 2006 namun gagal.
Pembangunan Taepodong-2 memiliki jangkauan ledakan antara 6.000 km dan 10.000 km. Jika rudal itu diluncurkan, kekuatannya akan meningkat dan dapat menjangkau Inggris, Australia, bahkan Amerika Serikat bagian barat hingga pertengahan.
Ahli pertahanan Korea Utara mengatakan saat ini, Taepodong-2 asli kini sedang digantikan lagi dengan model yang lebih baru dan tentunya memiliki kemampuan yang lebih dahsyat yaitu jangkauan ledakan radius hingga 15.000 km


  • RUDAL AGNI PAKISTAN

 
Sukses melakukan uji coba atas rudal jarak menengah Agni-III pekan lalu, India semakin berambisi memanaskan perlombaan senjata rudal dengan berencana menjangkau target di seluruh benua Asia lewat pengembangan sistem Rudal Balistik Antarbenua (ICBM). Ambisi India untuk memasukkan seantero Asia dalam jangkauan rudalnya ini dikhawatirkan akan memancing negara tetangganya, Pakistan untuk melakukan langkah serupa.
Sebelumnya, India sukses menembakkan Agni-III, rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan menghantam sasaran sejauh 3.500 kilometer di Sanghai dan Beijing. Pemerintah Tiongkok sempat cemas bahwa kelak kekuatan rudal ini akan memancing peperangan yang dipicu konflik di perbatasan kedua negara.
Tetapi Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India (DRDO) mengumumkan bahwa mereka memiliki teknologi untuk membuat ICBM yang akan memperluas radius jangkauan senjata pencabut nyawa itu, bahkan sampai ke luar Asia. Teknologi ICBM itu sebelumnya didominasi Rusia dan AS sejak era Perang Dingin yang ditandai beberapa kali uji coba. India telah mencapai kemampuan untuk memproduksi rudal dengan daya jangkau 5.500 kilometer tetapi keputusan untuk membuat ICBM tergantung kepada pemerintah pusat, Kata Inspektur DRDO, M Natarajan kepada wartawan di New Delhi.


Natarajan yang juga ahli persenjataan dalam Dephan India juga mengakui bahwa pihaknya telah merancang teknologi ICM sejak 1983. Para ahli DRDO masih mengerjakan sistem kecil dari Agni-III sehingga pada tahapan ketiga nanti ukuran rudal ini bisa dipangkas menjadi 16 meter agar bisa meluncur sejauh 5.500 kilometer dan membawa 1,5 ton hulu ledak, katanya.
Sumber di DRDO mengatakan bahwa India juga mengembangkan rudal penjelajah supersonik atas bantuan Rusia, dan menunggu persetujuan pemerintah New Delhi sebelum membuat prototype (purwarupa) rudal ICBM sebelum uji coba kedua Agni-III pada bulan Agustus nanti. Tetapi pencapaian India itu sebenarnya untuk menyaingi Tiongkok yang pada tahun 1964 melakukan uji coba nuklir pertamanya.


DRDO menyebutkan, beberapa tahun ke depan India akan mengembangkan ICBM dengan jangkauan 15.000 kilometer, lewat pengembangan rudal Surya untuk menyaingi kekuatan ICBM Tiongkok, DF-3 yang diklaim bisa menjangkau sasaran di seluruh dunia.
Setelah sempat sukses pada Rudal Agni III, India, Jumat, meluncurkan satu rudal balistik dalam percobaan kedua senjata bertenaga nuklir itu dalam satu bulan, Kementerian Pertahanan mengatakan.
Rudal Agni-II itu diluncurkan di tempat uji coba di India timur dan "telah mencapai semua parameter penerbangannya tanpa rintangan", seorang pejabat senior kementerian tersebut mengatakan kepada AFP.
"Itu adalah percobaan pemakai yang dilakukan oleh ilmuwan militer dan pertahanan," ia mengatakan mengenai roket tersebut, yang militer katakan mampu mengenai sasaran-sasaran jauh di dalam antara lain China.


Uji coba itu adalah yang kedua sejak 19 Mei, ketika Agni-II berjarak tembak sama 2.500Km ditembakkan dari tempat yang sama, yang menghantam sebuah sasatan yang telah ditetapkan sebelumnya di Teluk Benggala.
Rudal dengan panjang 20 meter itu yang dikembangkan India berbobot 16 ton dan mampu membawa satu ton hulu ledak konvensional atau nuklir.
Uji Coba Jumat, bagian dari upaya negara itu untuk membuat alat penangkis nuklir minimal yang dapat dipercaya, akan meratakan jalan bagi produksi massal rudal itu dan pelantikan pada akhirnya oleh militer India, kata pejabat tersebut.
India telah memiliki rudal Agni-III dengan jarak tembak 3.000Km -- yang terpanjang dalam rangkaian Agni yang dapat juga membawa kendaraan atau satelit dalam roket konvensional atau nuklir.


Laporan-laporan yang belum dikonfirmasikan memberi kesan India juga sedang membuat Agni yang berbeda dengan jarak tembak 5.000Km.
Agni atau Api adalah satu dari serangkaian rudal yang dikembangkan oleh Organisasi Pengembangan Riset Pertahanan India sebagai bagian dari strategi penangkisan negara itu terhadap China dan tetangganya Pakistan, yang juga memiliki senjata nuklir.


Agni-I, pertama diuji-coba pada 1993, memiliki jarak serangan 1.500Km.
Bersamaan dengan itu Kepala Staf Angkatan Laut Pakistan mengatakan, uji-coba rudal berkemampuan nuklir akan memicu perlombaan senjata baru di kawasan itu





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar